Kultur Sekolah

Apa itu kultur sekolah ?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhh ❤❤

Hai teman-teman  bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga kalian tetap jaga kesehatan ya apalagi di musim pandemi seperti sekarang ini. Kali ini saya akan memaparkan laporan bacaan mengenai “Kultur Sekolah” yang saya dapati dari beberapa jurnal yang sesuai dengan tema yang saya bahas guna memenuhi tugas mata kuliah Magang 1 yang diampu oleh dosen Farninda Aditya, M.Pd. yuk simak dibawah ini ya.

Ngomong-ngomong apakah  kaliah pernah mendengar kata kultur sekolah? Iya kultur sekolah  merupakan salah satu aspek yang harus kita ketahui sebagai calon guru dan pastinya kalian tidak asing dengan kata kultur sekolah tersebut. Sebelum mengetahui apa itu kultur sekolah baiknya kita mengetahui dulu apa itu kultur sekolah. Menurut saya kultur merupakan kebiasaan atau budaya yang biasa dilakukan oleh setiap warga sekolah tanpa terkecuali. Kultur sekolah ini bisa berbentuk kultur keagamaan, seragam dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Misalnya di sekolah MAN 1 Ketapang terdapat kebiasaan membaca yasin serta bersholawat sama-sama di lapangan upacara setiap Jumat pagi dan membaca Al-Quran terlebih dahulu selama lima menit sebelum memulai pembelajaran.

Sekolah  merupakan  salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Pengertian tentang kultur sekolah tentunya sangat banyak dan beraneka ragam. Salah satunya yang diungkapkan oleh Stolp dan Smith (1995 : 78-86) bahwa kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi atau penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah - masalah tersebut. Para ahli juga mendefinisikan kultur sekolah sebagai sebagai sebuah sistem orientasi bersama (norma - norma, nilai - nilai, dan asumsi - asumsi dasar) yang dipegang oleh warga sekolah, yang akan menjaga kebersamaan unit dan memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lain. Jadi dapat dipahami bahwa kultur sekolah diyakini sebagai keyakinan dan nilai – nilai milik bersama yang nantinya menjadi simbol pengikat kebersamaan sebagai suatu warga atau masyarakat sekolah.

Kultur sekolah ialah suatu pola dari asumsi, nilai, keyakinan dan kebiasaan yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah, terbukti dengan dapat dipergunakannya untuk menghadapi berbagai masalah dalam bersosialisasi dengan lingkungan yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada.

Kemudian ditinjau kultur sekolah dalam dari usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan dalam membagi unsur kultur sekolah dan nilai - nilai terbagi menjadi tiga jenis kultur sekolah, yaitu :

1.      Kultur yang positif, yakni kegiatan - kegiatan yang mendukung meningkatnya kualitas pendidikan. Misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, dan komitmen terhadap belajar.

2.      Kultur sekolah negatif, yakni kegiatan - kegiatan yang kontra peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau mengemukakan pendapat, siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah.

3.      Kultur sekolah yang netral, yakni yang akan memberikan kontribusi pada mutu pendidikan yang tidak hanya berfokus pada salah satu sisi pendidikan saja. Karena kultur sekolah juga pastinya memiliki untur nilai, kepercayaan, norma, organisasi serta budaya ilmunya sendiri. Kultur sekolah yang sering dijumpai disekolah – sekolah seperti: acara arisan keluarga sekolah, seragam guru, seragam siswa, mengaji bersama dan lain sebagainya.

Salah satu kultur sekolah yang berhubungan dengan norma hidup ialah budaya sekolah yang mewariskan nilai – nilai luhur kepada warga sekolah yakni budaya islami yang bersumber dari syariat islam. Penerapan dari budaya islami salah satunya ialah penguatan pendidikan karakter peserta didik. Pembinaan karakteristik lebih ditekankan dalam pembelelajaran dalam kurikulum 2013 dengan mengutamakan aspek utama seperti aspek akhlak, yang juga merupakan aspek utama dalam budaya islami. Dengan menerapkan budaya islami di sekolah seperti ini secara tidak langsung mutu dari pendidikan juga akan ikut meningkat.

Oleh karena itu, sekarang seperti yang telah kita ketahui bahwa sudha banyak sekolah yang menjadikan budaya islami sebagai landsan dalam menjalankan sistem sekolah mulai dari kegiatan diluar akademis maupun didalam akademis. Buadaya islam disekolah terbentuk dan berkembang menyesesuaikan  dengan kondisi lingkungan sekolah. Guru juga berperan penting menjadi pengembang budaya islami terhadap peserta didik seiring sekolah menerapkan budaya islami di sekolahnya. Lingkungan yang dimaksud bisaberupa benda-benda, objek-objek, alam dan manusia dengan maliputi segala kondisi dan material jamani yang ada di dalam tubuh seperti gizi, vitami, sistem saraf dna kesehatan jasmani. Guru juga mengajarkan budaya menjaga kebersihan lingkungan yang dilakukan di lingkungan sekolah di lakukan juga di lingkungan rumah. Menurut Mahmud Yunus ia mengatakan bahwa mementingkan kebersihan adalah salah satu dari tiga aspek kepribadian manusia yang harus dibina dalam pendidikan agama islam (Tafsir, 2008:56).

Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayaan, norma-norma, dan hubungan antara individu sekolah (Aan Komariah, 2006 : 121).  Karakteristik kultur sekolah diharapkan memperbaiki mutu sekolah, kinerja di sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki ciri sehat, dinamis atau aktif, positif, dan profesional. Dengan memberikan peluang sekolah dan warga sekolah berfungsi secara optimal, bekerja secara efisien, energik, penuh vitalitas, memiliki semangat tinggi, dan akan mampu terus berkembang. Kultur sekolah dapat saja menghadirkan konflik dan jika ini ditangani dengan bijak dan sehat dapat membawa perubahan yang positif (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 6-7). Kultur-kultur yang direkomendasikan Depdiknas untuk dikembangkan antara lain :

1.      Kultur yang terkait prestasi/kualitas :

a.    Semangat membaca dan mencari referensi;

b.    Keterampilan siswa mengkritisi data dan memecahkan masalah hidup;

c.    Kecerdasan emosional siswa;

d.   Keterampilan komunikasi siswa, baik itu secara lisan maupun tertulis;

e.    Kemampuan siswa untuk berpikir obyektif dan sistematis

2.      Kultur yang terkait dengan kehidupan sosial

a.    Nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan;

b.    Nilai-nilai keterbukaan;

c.    Nilai-nilai kejujuran;

d.   Nilai-nilai semangat hidup;

e.    Nilai-nilai semangat belajar;

f.     Nilai-nilai menyadari diri sendiri dan keberadaan orang lain;

g.    Nilai-nilai untuk menghargai orang lain;

h.    Nilai-nilai persatuan dan kesatuan;

i.      Nilai-nilai untuk selalu bersikap dan berprasangka positif;

j.      Nilai-nilai disiplin diri;

k.    Nilai-nilai tanggung jawab;

l.      Nilai-nilai kebersamaan;

m.   Nilai-nilai saling percaya;

n.    Dan nilai-nilai yang lain sesuai kondisi sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 25-26).

Kultur sekolah yang baik akan siap dan mampu meningkatkan sekolahnya menjadi sekolah bermutu, yang meliputi artifak, nilai dan keyakinan, serta asumsi. Dari seluruh rangkaian tersebut akan dicapai sekolah yang bermutu atau berkualitas. Kultur sekolah bersifat dinamis. Perubahan pola perilaku dapat mengubah sistem nilai dan keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun ini sangat sulit. Sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur subordinasi yang ada seperti kultur sehat dan tidak sehat, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kultur kacau dan stabil dan konsekuensinya terhadap perbaikan sekolah. Mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah, maka langkahlangkah kegiatan yang jelas perlu disusun untuk membentuk kultur sekolah (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 7).

Berikut beberapa hal yang dapat diidentifikasikan sebagai kultur sekolah, misalnya :

1.      Artifak

a.         Dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tanda-tanda, sopan santun, cara berpakaian.

b.         Tak dapat diamati: berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok.

2.      Nilai-nilai dan keyakinan, yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: ungkapan Rajin Pangkal Pandai; Air Beriak Tanda Tak Dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain.

Contoh kultur sekolah yang dapat kita ketahui seperti Budaya suka membaca seperti : Budaya bersih, Budaya disipilin dan efisien,  Budaya kerjasama, Budaya saling percaya, Budaya saling memberi penghargaan dan teguran. Budaya berprestasi. Kultur atau budaya adalah sesuatu kebiasaan atau pola perilaku normatif yang merupakan hasil olah pikir, olah rasa, dan cara bertindak. Salah satu ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah antropolog dari Amerika Serikat yakni Clifford Geertz. Antropolog ini mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. kebudayaan adalah sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Suatu kebudayaan juga merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai karya yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama. Setiap sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” dalam dinamika budaya sekolah.

Referensi :

Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas, (2003). Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

Stolp, S. dan Smith, S. C. (1995). Tranforming School Culture Stories, Symbols, Values and Leaders Role. Eugene, OR: ERIC, Clearinghouse on Educational Management University of Oregon

https://eprints.uny.ac.id/7779/3/BAB%202%20-%2008110241018.pdf

Widarto. 2004. Pelatihan Pengembangan Kultur Sekolah. Yogyakarta : Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta

Agustin, Nella, Dkk. 2021. Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Siswa (Antologi Esai Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Yogyakarta : UAD Press (Anggota IKAPI dan APPTI)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurikulum

Perangkat Pembelajaran