Memahami Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik Peserta Didik

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhh ❤❤

Alhamdulillah pada kesempatan yang pertama  ini masih diberi nikmat sehat untuk memaparkan sedikit materi yang akan saya bahas... selamat membaca 

Oke langsung saja..

Pada kesempatan pertama kali ini saya akan memaparkan atau melaporkan hasil bacaan saya mengenai “Karakteristik Peserta didik” guna memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan bacaan yang menjadi sumber membaca saya yakni jurnal pendidikan islam dengan Judul  “Memahami Karakteristik Peserta Didik Dalam Proses Pembelajaran”

Ketika memilih topik bacaan tentang karakteristik peserta didik yang saya pikirkan ialah tentang bagaimana sifat-sifat dari peserta didik yang berbeda satu sama lainnya dan bagaimana cara menghadapi peserta didik pada saat jam mengajar dengan banyaknya perbedaan sifat dan karakteristik peserta didik tersebut.

Pendahuluan

Seperti yang kita ketahui bahwasannya karakteristik peserta didik juga termasuk ke dalam proses belajar mengajar yang mana karakteristik peserta didik juga merupakan unsur pokok dari kompetensi pedagogis. Bagi pendidik menguasai karakteristik peserta didik menjadi salah atu dari indikator keprofesionalan dari guru itu sendiri yang menentukannya apakah profesional atau tidaknya pendidik.

Pembetukan karakter anak didik umumnya sulit dicapai oleh karena itulah, pendidik perlu mengetahui lebih dalam lagi tentang dunia anak, potensinya, minatnya, bakatnya, motivasi belajarnya serta permasalahan lain yang berhubungan dengan dunia anak. Dari pengertian tersebut bahwasannya pendidik juga merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajaran dengan dituntut memahami, menguasai dan mengimplementasikan indikator karakteristik anak. Menurut Mulyasa, ia menjelaskan bahwa di antara permasalahan pokok dunia pendidikan adalah kurangnya konten kreatif pada anak. (E.Mulyasa,2007) Yang dimaksudkan konten kreatif ini ialah belajar sambil bermain yang mana pada saat pembelajaran peserta didik tidak mudah bosan karena dapat di selingi dengan bermain. Karakteristik akan perlu di elaborasi dan disinkronisasikan dengan pelaksanaan tugas pendidik di kelas maupun di luar kelas. Menurut Janawi, ia menegaskan bahwa pendidikan harus menyentuh watak peserta didik dan pendidikan yang bermakna bagi kehidupan anak. (Janawi, 2019)

Pembahasan

Peran Guru Dalam Memahami Karakteristik Peserta Didik

Dalam itilah davies, tujuan akhir dari pembelajaran adalah perubahan-perubahan sendiri karena adanya interaksi anak dengan lingkungannya (Davies. 1986). Agar dapat memahami karakteristik dari peserta didik, pendidik membutuhkan disiplin ilmu seperti Psikologi Belajar, Psikologi Perkembangan, Psikologi Kepribadian Serta Yang Berkaitan Dengan Disiplin Ilmu Komunikasi. Hal-hal penting yang diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu :

1.      Membangun komunikasi verbal

Yang dimaksudkan komunikasi verbal ialah adanya komunikasi secara langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik dalam hal ini sebagai subyek dari pembelajaran sehingga tercipta hamonisasi antara pendidik dengan peserta didik pada saat proses pembelajaran berlangsung. Komunikasi verbal juga dapat dijadikan sebagai salah satu pendekatan ketika pendidik berhadapan dengan peserta didik yang di anggap “nakal”. Hal ini bisa di komunikasikan dengan peserta didik yang besangkutan dengan membangun rasa nyaman dalam diri peserta didik sehingga pendidik bisa mengetahui penyebab dan solusinyadari nakal nya peserta didik.

2.      Menjadi figur teladan

Figur yang menjadi teladan bagi peserta didik memiliki beberapa kriteria sepertp : rasa optimis,  komunikatif,  memiliki  charisma,  danperduli  dengan  lingkungan  sekitar,  termasuk dunia anak-anak. Kriteria tersebut merupakan salah satu unsur penting dalam memahami karakteristik peserta didik. Keteladanan  dalam  bersikap,  berkata,  dan  berkomunikasi  yang  baik  dapat dilakukan dengan menjadi pendengar yang setia atau siap mendengar keluh kesah anak didik. Seorang  pendidik  yang  baik  umumnya  memahami  karakteristik  peserta  didik  dengan  beberapa cara. Pendidik hanya perlu mengedepan Teknik mengajar seperti; (1) formal tetapi tidak kaku; (2) bercanda tapi tidak berlebihan; (3) belajar di luar kelas (outdoor); (4) makan minum dibolehkan tetapi harus tertib; dan (5) proporsional dalam tanya jawab.

3.      Berhati-hati dalam menyimpulkan karakter peserta didik

Pendidik juga perku bersikap hato-hati dalam mengambil kesimpulan atau memutuskan sesuatu terhadap memahami karakter peserta didik. Karena apabila terdapat kesalahan maka terjadi juga kesalahan memahami karakter dari peserta didik dan mengakibatkan salah mengambil saran atau keputusan.

4.      Mengenal tanda-tanda keanehan peserta didik

Tanda-tandan  yang  dimaksud  disini  adalah  tanda  fisik  maupun  non  fisik.  Pada  dasarnya tidak  ada  sesuatu  yang  dianggap  aneh,  tapi  yang  ada  adalah  keunikan  karakteristik.  Fenomena sikap  peserta  didik  perlu  disikapi  dengan  memperhatkan  karakter  personal  dan  kelompok  anak dalam proses pembelajaran

5.      Bersifat terbuka

Bersikap terbuka pada peserta didik  berarti  memberikan  peluang  secara  luas  untuk  memahami  karakter  anak.  Dengan  sikap terbuka,   pada   umumnya   anak   didik   akan   bersikap   terbuka   pada   pendidik.   Anak   didik memerlukan  perhatian  dari  pendidik  baik  dalam  kelas  maupun  di  luar  kelas.  Karakter  yang dimiliki  anak  beragam.  Keragaman  itu  tentu  menentukan  cara,  dan  pendekatan  tenaga  pendidik dalam proses memahami sifat dan karakter anak. Hal terpenting yang harus dipahami pendidik ialah bagaimana memahami dunia anak, karakteristik anak dan proses pendidikan anak. Karena pada umumnya masing-masing anak memiliki persamaan dan perbedaan. Dan hal yang paling penting ialah anak mrnjadi pusat perhatian (Janawi,2009)

Mengembangkan Karakteristik Pembelajaran Yang Mendidik

Beberapa faktor utama yang dapat dilakukan untuk mengembangkan karakteristik pembelajaran yang mendidik ialah :

Pertama, mengidentifikasi  karakteristik  belajar  setiap  peserta  didik  di  kelasnya.  Walaupun  sistem pembelajaran  kita  (Indonesia)  masih  menganut  sistem  klasikal,  namun  karakteristik  perbedaan  dan persamaan individualpenting diperhatikan oleh guru. Identifikasi tidak hanya tertumpu pada aspek fisik, seperti  berat  badan,  jenis  kelamin,  kelainan  fisik,  namun  identifikasi  nonfisik  tidak  dapat  diabaikan. Karakteristik nonfisik dapat berupa mental, emosional, potensi/bakat, termasuk disabilitas mental. Kedua, semua  peserta  didik  mendapatkan  kesempatan  yang  sama  berpartisipasi  aktif  dalam kegiatan  pembelajaran.  Kesempatan  diberikan  kepada  semua  peserta  dalam  proses  pembelajaran.  Guru perlumenjamin   untuk   tidak   adanya   deskriminasi   perlakuan   dalam   proses   pembelajaran.   Untuk mewujudkan    ini,    guru    perlu    menggunakan    berbagai    pendekatan,    metode,    dan    model-model pembelajaran. Ketiga, mengelola  kelas.  Penempatan  kursi  akan  lebih  berarti  bagi  terciptana  pembelajaran  yang baik.  Kelas  perlu  mempertimbangkan  jumlah  peserta  didik,  materi,  dan  metode  yang  akan  digunakan. Hendaknya,  format  kursi  danlam  ruangan  dapat  dirubah.  Bahkan  pembelajaran  tidak  selamanya dilakukan  dalam  kelas.  Penempatan  kursi  dapat berpengaruh  pada  partisipasi  belajar  anak.  Pengaturan kursi  semakin  dibutuhkan  apabila  ada  peserta  didik  mengalami  kelainan  fisik.  Hal-hal  yang  seperti  ini kurang   diperhatikan   dalam   proses   pembelajaran.   Padahal,   prinsip   pembelajaran   modern   adalah memberikan  kesempatan  yang  sama  bagi  semua  peserta  didik  untuk  mengikuti  proses  pembelajaran dengan baik. Keempat, mengetahui   penyebab   penyimpangan   perilaku   peserta   didik.   Guru   tidak   hanya menyampaikan pembelajaran yang bersifat kognitif. Guru perlu memperhatikan kelainan perilaku anak.  Guru   juga   harus   bertindak   sebagai   konselor.   Penyimpangan   perilaku   tidak   dapat   dibiarkan. Penyimpangan  perilaku  perlu  diobservasi  dan  didiagnostik.  Bila  guru  tidak  memiliki  pengetahuan  yang memadai tentang perilaku, maka guru perlu bekerjasama dengan guru lain, seperti guru Bimbingan dan Konseling. Kelima, membantu  mengembangkan  potensi  dan  mengatasi  kekurangan  peserta  didik.  Potensi anak  didik  dapat  dilakukan  dengan  melakukan  berbagai  tes  kepribadian  dan  tes  bakat  minat.  Namun persoalan  besar  dalam  system  pembelajaran  kasikal,  potensi,  bakat  dan  minat  kurang  dieksplorasi sebagai penciri karakteristik anak. Keenam, memperhatikan  peserta  didik  dengan  kelemahan  fisik  tertentu.  Kelemahan  fisik  dapat diantisipasi  melalu  pengaturan  kelasyang  beorientasi  pada  kebutuhan  anak.  Bila  ini  diabaikan,  maka anak  yang  mengalami  kelainan  fisik  sulit  mengikuti  aktivitas  pembelajaran.  Dampaknya,  peserta  didik tersebut termarginalkan (tersisihkan, diolokolok, minder, dan lain sebagainya). Banyak kejadian dalam dunia penddikan, sikap malu, takut, dan merasa tersisih, diakibatkan oleh perilaku teman kelas.

Dalam konteks pembelajaran yang mendidik, macam-macam pendekatan yang telah dilakukan oleh pendidik, sekolah dan penentu kebijakan. Sebelum pendidik menyelenggarakan teknik pembelajaran yang mendidik, pendidik terlebih dahulu harus memahami dari teknik yang akan ia gunakan kemana arah tujuannya belajar itu sendiri (Semiawan,2000). Menurut Conny R. Semiawan ia menyatakan bahwa belajar dapat dipahami melalui dua hal, yaitu secara mikro dan makro. Secara mikro,belajar terkait dengan   proses pembelajaran itu sendiri.  Pengaruh  negatif dapat datang dari luar sekolah (lingkungan luar) ditambah dengan orientasi pembelajaran yang ditandai dengan ciri alienatif, keterasingan anak didik dari proses belajar sesungguhnya. Proses  ini  biasanya  terjadi  karena  proses  pembelajaran  hanya berlangsung satu arah. Guru  lebih dominan,sementara anak cenderung pasif. Praktik ini terjadi karena proses pembelajaran lebih memfokuskan pada aspek kognitif. Ibarat bejana yang dituangkan dengan air sampai  penuh. Setelah airnya  penuh,  proses pembelajaran pun dianggap selesai. Sedangkan secara makro Semiawan, 2002 mengatakan bahwa pembelajaran ditinjau dari adanya analisis dua jalur dalam pendekatan sistemnya yang disebut  analisis dua jalur yaitu: 1) mencakup tiga komponen (peserta didik yang dihadapi, sasaran program, dan bagaimana menyelaraskan sasaran dan relevansinya).

Proses pembelajaran yang mendidik adalah proses yang selalu    berorientasi pada pengembangan potensi anak. Menurut Masnur Muslich, 2007 menitik beratkan   pada proses pemberdayaan potensi anak. Prinsip-prinsip yang perlu dipertahankan seperti: Pertama, kegiatan yang    berpusat pada  anak; Kedua,belajar melalui berbuat; Ketiga, mengembangkan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual ,dan  sosial; dan keempat,   belajarsepanjang hayat.

Howard Kigsley yang dikutip Nana Sudjana membagi hasil belajar ke dlama tida kategori, yaitu : keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne menguraikan hasil belajar kepada lima kategori yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan motoris. Dalam  proses  pelakasanaannya, evaluasi tujuan pendidikan nasionaltetap berorientasi pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris (Nana Sudjana. 2006)

Ranah kognitif berkenaan   dengan hasil belajar intelektual yang dapat dikelompok kanmenjadienamaspek,yaitupengetahuan  atauingatan,pemahaman,aplikasi,analisis, sintesis, danevaluasi.Dua   aspekpertamadisebut kognitiftingkatrendahdankeempataspek   berikutnyadigolongkankognitiftingkattinggi.Ranah  afektif  berkenaan     dengan     sikap     yang      terdiri   dari  lima   aspek   yakni  penerimaan,   jawabanataureaksi,penilaian,  organisasi,dan  inter-nalisasi. Sedangkan  Ranah psikomotoris  berkenaan   dengan   hasil belajar keterampilan dan  kemampuan bertindak. Ada enam aspek  masukranahpsikomotorisyaitugerakanreflek, keterampilangerakan dasar,kemampuanperseptual, keharmonisanatauketepatan,gerakan keterampilankompleks,dan gerakan ekspresif dan imperatif. Ketiga  ranah  tersebut  pada  dasarnya  dapat  dijadikan  sebagai  proses  evaluasi  yang  lebih menekankan  pada  pengembangan  potensi  dan  karakteristik  anak  dalam  proses  pembelajaran.  Anak mengalami proses belajar. Anak tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya melalui proses    pembelajaran    baik    dalam    lingkungan    keluarga,    sekolah,    maupun    masyarkat.    Pada perkembangan  selanjutnya,  anak  mencoba  menempatkan  dirinya    ke  dalam  keseluruhan  proses pendidikan dimana ia berada. Perkembangann anak tidak selamanya dimulai dari pradigma tabularasa,  melainkan  mengandung  sumber  daya  yang  memiliki  kondisi    sosial  kultural,  fisik,  dan  biologis. Disinlah letaknya bahwa guru berperan besar  dalam menumbuhkembangkan  karakteristik dan potensi anak   dalam   proses   pendidikan.   Bahkan   dalam   proses   pedidikan,   tenaga   pendidik   (guru)   perlu meningkatkan  kemampuan  dirinya.  Memahami  diri,  memahami  lingkungan  belajar,  dan  sumber belajar  lainnya  merupakan  persyaratan  dalam  meningkatkan  proses  pembelajaran.  Mengembangkan potensi  dan  karakteristik  anak  juga  merupakan  bentuk  tanggung  jawab  guru.    Lebih  lanjut  Kunandar menjelaskan  bahwa  tanggung  jawab  guru  dalam  pembelajaran  yang  edukatif  meruapakan  tanggung jawab  pribadi,  social,intelektual,  moral,  dan  spiritual.  Tanggung  mandiri  berupa  mampu  memahami dirinya,  mengelola  dirinya,  megendalikan  dirinya,  menghargai  dirinya,  dan  mengembangkan  dirinya(Kunandar. 2007)

Sumber :https://jurnal.lp2msasbabel.ac.id/index.php/tar/article/view/1236/457

Janawi, J. (2019). Memahami Karakteristik Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran. Tarbawy : Jurnal Pendidikan Islam6(2), 68 - 79.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurikulum

Perangkat Pembelajaran